Kamis, 14 Maret 2013

pengendalian persediaan


Kata Pengantar

Puji syukur  penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “MANAJEMEN PERSEDIAAN “
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah “Manajemen Operasional” Fakultas Ekonomi Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi AUB Surakarta.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan manfaat dan wawasan bagi kita semua, khususnya bagi penyusun.
Surakarta,  November 2012
Penulis










BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi atau proses input menjadi output merupakan macam-macam bentuk dari persediaan dan persediaan berhubungan dengan stok dari apapun yang diperlukan untuk menjalankan proses bisnis. Meskipun persediaan mewakili sebagian besar dari investasi bisnis yang harus dikelolah dengan baik untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.
Persediaan berhubungan dengan bermacam-macam: mencari perimbangan antara jumlah stock yang benar tetapi tidak terlalu banyak, meningkatkan turnover persediaan tampa mengorbankan tingkat pelayanan, menjaga stok terendah tetapi tidak membahayakan kinerja, memelihara bermacam-macam stok yang sangat luas tetapi tidak menghabiskan dengan cepat sehingga menipis, mempunyai persedian yang mencukupi tampa item-item yang usang atau tidak terpakai, selalu mempunyai stock yang diinginkan tetapi tidak item yang lambat. Ketika persediaan tidak dikelolah dengan benar dan menjadi tidak dipercaya, tidak efisien dan mahal, tidak hanya item yang disimpan, pajak asuransi dan juga biaya yang ada dalam inventory.
B.  Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan membahas beberapa masalah, antara lain :
1.    Apakah pengertian dari manajemen persediaan ?
2.    Apa sajakah yang termasuk dalam jenis manajemen persediaan ?
3.    Apa sajakah yang merupakan fungsi manajemen persediaan ?
4.    Apa sajakah yang termasuk  metode-metode dalam manajemen persediaan ?
C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dibuatnya makalah yang membahas tentang manajemen persediaan :
1.    Untuk mengetahui penjelasan tentang pengertian manajemen persediaan.
2.    Untuk mengetahui jenis-jenis manajemen persediaan.
3.    Untuk mengetahui fungsi-fungsi manajemen persediaan.
4.    Untuk mengetahui metode-metode yang digunakan dalam manajemen persediaan.
D.  Metode Penelitian
Metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan menggunakan media internet dan merangkum dari buku paket.
BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pengertian
Itislah persediaan (inventori) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya – sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan.
Sitem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan yang memonitor tingkat persediaan dan mementukan tingkat persediaan yang harus di jaga, kapan persediaan harus di isi, dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan.
Persediaan (inventory) adalah bahan-bahan atau barang (sumberdaya-sumberdaya organisasi) yang disimpan yang akan dipergunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya : untuk proses produksi atau perakitan, untuk suku cadang dari peralatan, maupun untuk dijual. Walaupun persediaan hanya merupakan suatu sumber dana yang menganggur, akan tetapi dapat dikatakan tidak ada perusahaan yang beroperasi tanpa persediaan.

B.  Jenis – Jenis Persediaan Menurut Cara Penggolahannya dan Posisi Barang :
1.    Persediaan bahan baku (Raw Material Stock)
Yaitu persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi dari input menjadi output.
2.    Persediaan bagian produksi atau parts yang dibeli (Purchased Parts/Component Stock)
Yaitu persediaan barang yang terdiri dari parts yang diterima dari perusahaan lain yang dapat secara langsung dapat dirakit menjadi produk tanpa melalui proses produksi selanjutnya.
3.    Persediaan bahan-bahan pembantu atau bahan-bahan pelengkap (supplier Stock)
Yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.

4.    Persediaan barang setengah jadi atau barang-barang dalam proses (Works in Process/Progress)
Yaitu barang-barang yang dikeluarkan dari tiap-tiap bagian dalam suatu pabrik atau bahan-bahan yang diolah menjadi suatu bentuk tetapi masih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi.
5.    Persediaan barang jadi (finished goods)
Yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau di olah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau di kirim kepada langganan.

C.  Jenis-jenis Persediaan dalam Suatu Perusahaan menurut Fungsinya :
1. Bath Stock/Lot Size Inventory
Adalah persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu.
Keuntungan :
·      Potongan harga pada harga pembelian.
·      Efisiensi produksi.
·      Penghematan biaya angkutan.
2.    Fluctuation Stock
Adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.
3.    Anticipation Stock
Adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan, penjualan, atau permintaan yang meningkat.

D.  Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Persediaan
Secara umum besar-kecilnya inventory tergantung pada beberapan faktor :
1.    Lead time, yaitu lamanya masa tunggu material yang dipesan datang.
2.    Frekuensi penggunaan bahan selama 1 periode, frekuensi pembelian yang tinggi menyebabkan jumlah inventory menjadi lebih kecil untuk 1 periode pembelian.
3.    Jumlah dana yang tersedia.
4.    Daya tahan material.

Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan adalah:
1.    Bahan baku, dipengaruhi oleh : perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat diandalkan pemasok, dan tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan produksi.
2.    Barang dalam proses, dipengaruhi oleh: lamanya produksi yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk ke proses produksi sampai dengan saat penyelesaian barang jadi.
3.    Barang jadi, persediaan ini sebenarnya merupakan masalah koordinasi produksi dan penjualan.

E.  Fungsi – Fungsi Persediaan
1.    Fungsi Decoupling
Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan operasi – operasi perusahaan internal dan eksternal mempunyai “kebebasan” (independence). Persediaan “Decouples” ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada suplier. Untuk dapat memenuhi fungsi ini dilakukan cara-cara sebagai berikut:
·      Persediaan bahan mentah disiapkan dengan tujuan agar perusahaan tidak sepenuhnya tergantung penyediaannya pada suplier dalam hal kuantitas dan pengiriman.
·      Persediaan barang dalam proses ditujukan agar tiap bagian yang terlibat dapat lebih leluasa dalam berbuat.
·      Persediaan barang jadi disiapkan pula dengan tujuan untuk memenuhi permintaan yang bersifat tidak pasti dari langganan.
2.    Fungsi Economic Lot Sizing
Persediaan “lot size” ini perlu mempertimbangkan “penghematan-penghematan” (potongan pembelian, biaya pengankutan per unit lebih murah dan sebagainya). Karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, risiko, dan sebagainya).
3.    Fungsi Antisipasi
Perusahaan sering mengalami suatu ketidakpastian dalam jangka waktu pengiriman barang dari perusahaan lain, sehingga memerlukan persediaan pengamanan (safety stock), atau perusahaan mengalami fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan sebelumnya yang didasarkan pengalaman masa lalu akibat pengaruh musim, sehubungan dengan hal tersebut perusahaan sebaiknya mengadakan seaseonal inventory (persediaan musiman) (Asdjudiredja,1999:114).

4.    Persediaan Pipeline
Sistem persediaan dapat diibaratkan sebagai sekumpulan tempat (stock point) dengan aliran diantara tempat persediaan tersebut. Pengendalian persediaan terdiri dari pengendalian aliran persediaandan jumlah persediaan akan terakumulasi ditempat  persediaan. Jika aliran melibatkan perubahan fisik produk, seperti perlakuan panas atau perakitan beberapa komponen, persediaan dalam aliran tersebut persediaan setengah jadi (work in process). Jika suatu produk tidak dapat berubah secara fisik tetapi dipindahkan dari suatu tempat penyimpanan ke tempat penyimpanan lain, persediaan disebut persediaan transportasi. Jumlah dari persediaan setengah jadi dan persediaan transportasi disebut persediaan pipeline. Persediaan pipeline merupakan total investasi perubahan dan harus dikendalikan.
5.    Persediaan Lebih .
Yaitu persediaan yang tidak dapat digunakan karena kelebihan atau kerusakan fisik yang terjadi.
Selain fungsi-fungsi diatas, menurut Herjanto (1997:168) terdapat enam fungsi penting yang dikandung oleh persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan antara lain:
1.    Menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman bahan baku atau barang yang dibutuhkan perusahaan.
2.    Menghilangkan resiko jika material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3.    Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga barang atau inflasi.
4.    Untuk menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman sehingga perusahaan tidak akan sulit bila bahan tersebut tidak tersedia dipasaran.
5.    Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas (quantity discount).
6.    Memberikan pelayanan kepada langganan dengan tersediaanya barang yang diperlukan.

F.   Tujuan Persediaan
Divisi yang berbeda dalam industri manufaktur akan memiliki tujuan pengendalian persediaan yang berbeda :
1.    Pemasaran ingin melayani konsumen secepat mungkin sehingga menginginkan persediaan dalam jumlah yang banyak.
2.    Produksi ingin beroperasi secara efisien. Hal ini mengimplikasikan order produksi yang tinggi akan menghasilkan persediaan yang besar (untuk mengurangi setup mesin). Disamping itu juga produk menginginkan persediaan bahan baku, setengah jadi atau komponen yang cukup sehingga proses produksi tidak terganggu karena kekurangan bahan.
3.    Pembelian (purchasing), dalam rangka efisiensi, juga menginginkan persamaan produksi yang besar dalam jumlah sedikit daripada pesanan yang kecil dalam jumlah yang banyak. Pembelian juga ingin ada persediaan sebagai pembatas kenaikan harga dan kekurangan produk.
4.    Keuangan (finance) menginginkan minimisasi semua bentuk invenstasi persediaan karena biaya investasi dan efek negatif yang terjadi pada perhitungan pengembalian aset(return of asset) perusahaan.
5.    Personalia (personel and industrial relationship) menginginkan adanya persediaan untuk mengantisipasi fluktuasi kebutuhan tenaga kerja dan PHK tidak perlu dilakukan.
6.    Rekayasa (engineering) menginginkan persediaan minimal untuk mengantisipasi jika terjadi perubahan rekayasa /engineering.

G.  Klasifikasi Manjemen Persediaan (Inventory)
Ada beberapa macam klasifikasi inventory menurut Dobler at al, ada beberapa klasifikasi invetory yang digunakan oleh perusahaan, antara lain :
1.    Inventori Produksi        
Yang termasuk dalam klasifikasi invetori produksi adalah bahan baku dan bahan-bahan lain yang digunakan dalam proses pr oduksi dan merupakan bagian dari produk. Bisa terdiri dari dua tipe yaitu item spesial yang dibuat khusus untuk spesifikasi perusahaan dan item standart produksi yang dibeli secara off-the-self.
2.    Inventori MRO (Maintaintenance, Repair, and Operating supplies)
Yang termasuk dalam katagori ini adalah barang-barang
yang digunakan dalam proses produksi namun tidak merupakan bagian dari produk.
3.    Inventory In-process
Yang termasuk dalam katagori inventori ini adalah produk setengah jadi. Produk yang termasuk dalam katagori inventori ini bisa ditemukan dalam berbagai proses produksi.
4.    Inventory Finished-goods
Semua produk jadi yang siap untuk dipasarkan termasuk dalam katagori inventori finished goods. PT XYZ adalah sebuah swalayan yang menjual produk-produk yang siap untuk dipakai. Tidak ada proses pengolahan yang ada disana, sehingga semua inventori yang dimilikinya termasuk dalam katagori ini. Setelah diperhatikan definisi inventory diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan persediaan bahan baku adalah barang-barang berwujud yang dimiliki dengan tujuan untuk diproses menjadi barang jadi.

H.  Biaya – Biaya Persediaan
1.    Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs)
Teridiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya – biaya yang termasuk dalam sebagai baiaya penyimpanan adalah :
·      Biaya fasilitas – fasilitas penyimpanan (termasuk, penerangan, pemanas atau pendingin).
·      Biaya modal (opportunity cost of capital, yaitu alternatif pendapatan atas dana yang di investasikan dalam persediaan).
·      Biaya keusangan.
·      Biaya penghitungan phisik dan konsiliasi laporan.
·      Biaya asuransi persediaan.
·      Biaya pajak persediaan.
·      Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan.
·      Biaya penanganan persediaa
2.    Biaya pemesanan (Pembelian)
Setiap kali suatu bahan di pesan perusahaan menanggung biaya pemesanan (Order costs atau procurement costs).



3.    Biaya penyiapan (Manufacturing)
Bila bahan – bahan tidak di beli, tetapi tidak di produksi sendiri “dalam pabrik” perusahaan. Perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup costs) untuk memproduksi komponen tertentu.
4.    Biaya kehabisan atau kekurangan bahan
Dari semua biaya – biaya yang berhubungan dengan tingkat persediaan, biaya kekurangan bahan (shortage costs) adalah yang paling sulit di perkirakan.
I. Pengendalian Persediaan Bahan Baku
1.  Pengertian pengendalian bahan baku
Pengendalian bahan baku yang diselenggarakan dalam suatu perusahaan, tentunya diusahakan untuk dapat menunjang kegiatan-kegiatan yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan. Keterpaduan dari seluruh pelaksanaan kegiatan yang ada dalam perusahaan akan menunjang terciptanya pengendalian bahan baku yang baik dalam suatu perusahaan.
Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting bagi perusahaan, karena persediaan fisik pada perusahaan akan melibatkan investasi yang sangat besar pada pos aktiva lancar. Pelaksanaan fungsi ini akan berhubungan dengan seluruh bagian yang bertujuan agar usaha penjualan dapat intensif serta produk dan penggunaan sumber daya dapat maksimal.
Istilah pengendalian merupakan penggabungan dari dua pengertian yang sangat erat hubungannya tetapi dari masing-masing pengertian tersebut dapat diartikan sendiri-sendiri yaitu perencanaan dan pengawasan. Pengawasan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu tidak ada artinya, demikian pula sebaliknya perencanaan tidak akan menghasilkan sesuatu tanpa adanya pengawasan.
Menurut Widjaja (1996:4), perencanaan adalah proses untuk memutuskan tindakan apa yang akan diambil dimasa depan. Perencanaan kebutuhan bahan adalah suatu sistem perencanaan yang pertama-tama berfokus pada jumlah dan pada saat barang jadi yang diminta yang kemudian menentukan permintaan turunan untuk bahan baku, komponen dan sub perakitan pada saat tahapan produksi terdahulu (Horngren,1992:321).
Pengawasan bahan adalah suatu fungsi terkoordinasi didalam organisasi yang terus-menerus disempurnakan untuk meletakkan pertanggungjawaban atas pengelolaan bahan baku dan persediaan pada umumnya, serta menyelenggarakan suatu pengendalian internal yang menjamin adanya dokumen dasar pembukuan yang mendukung sahnya suatu transaksi yang berhubungan dengan bahan, pengawasan bahan meliputi pengawasan fisik dan pengawasan nilai atau rupiah bahan.(Supriyono,1999:400)
Kegiatan pengawasan persediaan tidak terbatas pada penentuan atas tingkat dan komposisi persediaan, tetapi juga termasuk pengaturan dan pengawasan atau pelaksanaan pengadaan bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan dengan biaya yang serendah-rendahnya.
Pengendalian adalah proses manajemen yang memastikan dirinya sendiri sejauh hal itu memungkinkan, bahwa kegiatan yang dijalankan oleh anggota dari suatu organisasi sesuai dengan rencana dan kebijaksanaannya. (Widjaja,1996:3). Pengendalian berkisar pada kegiatan memberikan pengamatan, pemantauan, penyelidikan dan pengevaluasian keseluruh bagian manajemen agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.
2. Tujuan Pengendalian Pesediaan
Menurut Assauri (1998:177), tujuan pengawasan persediaan dapat diartikan sebagai usaha untuk:
a.    Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga menyebabkan proses produksi terhenti.
b.    Menjaga agar penentuan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar sehingga biaya yang berkaitan dengan persediaan dapat ditekan.
c.    Menjaga agar pembelian bahan baku secara kecil-kecilan dapat dihindari.
Tujuan dasar dari pengendalian bahan adalah kemampuan untuk mengirimkan surat pesanan pada saat yang tepat pada pemasok terbaik untuk memperoleh kuantitas yang tepat pada harga dan kualitas yang tepat (Matz,1994:229).
Jadi, dalam rangka mencapai tujuan tersebut diatas, pengendalian persediaan dan pengadaan perencanaan bahan baku yang dibutuhkan baik dalam jumlah maupun kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan untuk produksi serta kapan pesanan dilakukan.
J. Prinsip-Prinsip Pengendalian Persediaan
Menurut Matz (1994:230), sistem dan tehnik pengendalian persediaan harus didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1.    Persediaan diciptakan dari pembelian (1) bahan dan suku cadang, dan (2) tambahan biaya pekerja dan overhead untuk mengelola bahan menjadi barang jadi.
2.    Persediaan berkurang melalui penjualan dan perusakan.
3.    Perkiraan yang tepat atas skedul penjualan dan produksi merupakan hal yang esensial bagi pembelian, penanganan, dan investasi bahan yang efisien.
4.    Kebijakan manajemen, yang berupaya menciptakan keseimbangan antara keragaman dan kuantitas persediaan bagi operasi yang efisien dengan biaya pemilikan persediaan tersebut merupakan faktor yang paling utama dalam menentukan investasi persediaan.
5.    Pemesanan bahan merupakan tanggapan terhadap perkiraan dan penyusunan rencana pengendalian produksi.
6.    Pencatatan persediaan saja tidak akan mencapai pengendalian atas persediaan.
7.    Pengendalian bersifat komparatif dan relatif, tidak mutlak.
Oleh karena itu, Matz (1994:229) berpendapat bahwa pengendalian persediaan yang efektif harus :
1.    Menyediakan bahan dan suku cadang yang dibutuhkan bagi operasi yang efisien dan lancar.
2.    Menyediakan cukup banyak stock dalam periode kekurangan pasokan (musiman, siklus atau pemogokan), dan dapat mengantisipasi perubahan harga.
3.    Menyiapkan bahan dengan waktu dan biaya penanganan yang minimum serta melindunginya dari kebakaran, pencurian, dan kerusakan selama bahan tersebut ditangani.
4.    Mengusahakan agar jumlah persediaan yang tidak terpakai, berlebih, atau yang rusak sekecil mungkin dengan melaporkan perubahan produk secara sistematik, dimana perubahan tersebut mungkin akan mempengaruhi bahan suku cadang.
5.    Menjamin kemandirian persediaan bagi pengiriman yang tepat waktu kepada pelanggan.
6.    Menjaga agar jumlah modal yang diinvestasikan dalam persediaan berada pada tingkat yang konsisten dengan kebutuhan operasi dan rencana manajemen.
K. Sistem Pengendalian Persediaan
Penentuan jumlah persediaan perlu ditentukan sebelum melakukan penilaian persediaan. Jumlah persediaan dapat ditentukan dengan dua sistem yang paling umum dikenal pada akhir periode yaitu:
1.    Periodic system, yaitu setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara fisik agar jumlah persediaan akhir dapat diketahui jumlahnya secara pasti.
2.    Perpectual system, atau book inventory yaitu setiap kali pengeluaran diberikan catatan administrasi barang persediaan.
Dalam melaksanakan panilaian persediaan ada beberapa cara yang dapat dipergunakan yaitu:
a.    First in, first out (FIFO) atau masuk pertama keluar pertama
Cara ini didasarkan atas asumsi bahwa arus harga bahan adalah sama dengan arus penggunaan bahan. Dengan demikian bila sejumlah unit bahan dengan harga beli tertentu sudah habis dipergunakan, maka penggunaan bahan berikutnya harganya akan didasarkan pada harga beli berikutnya. Atas dasar metode ini maka harga atau nilai dari persediaan akhir adalah sesuai dengan harga dan jumlah pada unit pembelian terakhir.
b.    Last in, first out (LIFO) atau masuk terakhir keluar pertama
Dengan metode ini perusahaan beranggapan bahwa harga beli terakhir dipergunakan untuk harga bahan baku yang pertama keluar sehingga masih ada (stock) dinilai berdasarkan harga pembelian terdahulu.
c.    Rata-rata tertimbang (weighted average)
Cara ini didasarkan atas harga rata-rata perunit bahan adalah sama dengan jumlah harga perunit yang dikalikan dengan masing-masing kuantitasnya kemudian dibagi dengan seluruh jumlah unit bahan dalam perusahaan tersebut.
d.   Harga standar
Besarnya nilai persediaan akhir dari suatu perusahaan akan sama dengan jumlah unit persediaan akhir dikalikan dengan harga standar perusahaan.

L. Metode-metode dalam Manajemen Persediaan
1. Metode pengendalian secara statistik (Statistical Inventory Control)
Metode ini menggunakan ilmu matematika dan statistik sebagai alat bantu utama dalam memecahkan masalah kuantitatif dalam system persediaan. Pada dasarnya, metode ini berusaha mencari jawaban optimal dalam menentukan :
·      Jumlah ukuran pemesanan dinamis (EOQ).
·      Titik pemesanan kembali (Reorder Point).
·      Jumlah cadangan pengaman (safety stock) yang diperlukan.
Metode ini sering juga disebut metode pengendalian tradisional, karena memberi dasar lahirnya metode baru yang lebih modern, seperti MRP di Amerika dan Kanban di Jepang. Metode pengendalian persediaan secara statistik ini biasanya digunakan untuk mengendalikan barang yang permintaannya bersifat bebas (dependent) dan dikelola saling tidak bergantung. Yang dimaksud permintaan bebas adalah permintaan yang hanya dipengaruhi mekanisme pasar sehingga bebas dari fungsi operasi produk. Sebagai contoh adalah permintaan untuk barang jadi dan suku cadang pengganti (spare part).
Ada beberapa model pendekatan untuk menganalisis persediaan suatu perusahaan, yaitu dengan model Economic Order Quantity (EOQ), model Back Order, model Fixed Production rate dan model Quantity Discount yang kesemuanya berasumsi bahwa semua parameter telah diketahui dengan pasti (model-model deterministic).
Ada dua keputusan dasar dalam EOQ, yaitu:
1.    Berapa jumlah bahan baku yang harus dipesan pada saat bahan baku tersebut perlu dibeli kembali (Replenisment Cyle)
2.    Kapan perlu dilakukan pembeliaan kembali (Reorder point)

Asumsi yang digunakan dalam analisis EOQ ini adalah:
a.    Jumlah kebutuhan bahan baku sudah dapat ditentukan lebih dahulu secara pasti untuk penggunaan selama 1 tahun/ 1 periode tertentu.
b.    Penggunaan bahan baku selalu pada tingkat yang konstan secara kontinyu.
c.    Pesanan persis diterima pada saat tingkat persediaan sama dengan nol (0) atau di atas safety stock (persediaan minimal/besi).
d.   Harga konstan selama periode tertentu
Penurunan Rumus EOQ
TC = CC + OC
CC = Q/2 x P x C
OC = R/Q x F
TC = ½ P.C.Q + R.F.Q-1
Keterangan :      TC = total biaya
CC = biaya penyimpanan
OC = biaya pemesanan
Q = kuantitas pemesanan
P = harga beli perunit
C = biaya penyimpanan(%)
R = kebutuhan persediaan dalam 1 tahun
F = biaya setiap kali pemesanan

Contoh Soal :
Perusahaan A membutuhkan persediaan dalam setahun sebesar 1.800 unit; ongkos sekali pesan Rp 750; harga beli perunit Rp 50; biaya penyimpanan 15%. Maka EOQ dan TC adalah :
TC = ½ P.C.Q + R.F.Q-1
TC = ½.(Rp 50).(15%).(600 unit) + 1.800 unit.(Rp 750).(1/600)
      = 2.250 + 2.250
 = Rp 4.500

2. Metode Persedian Just In Time (JIT)
Jumlah persediaan ditetapkan pada tingkat seminimal mungkin sehingga perusahaan perlu mengusahakan agar persediaan segera tiba saat dibutuhkan untuk aktivitas produksi. Dengan tujuan: mengurangi persediaan, menghasilkan persediaan berkesinambungan dalam hal produktifitas, kualitas produk & fleksibilitas manufaktur.
Hal-hal yang dibutuhkan dalam JIT system:                         
a.    SS yang minimal.
b.    Koordinasi yang baik antara perusahaan, pemasok, dan perusahaan pengapalan, agar persediaan datang tepat waktu.
c.    Langkah-langkah dalam mengurangi biaya pemesanan (JIT tidak membenarkan biaya pemesanan yang bersifat tetap) :
·      Penggunaan truk pengiriman berukuran kecil dengan jadwal pemuatan yang ditentukan agar hemat waktu dan biaya.
·      Menegaskan kepada pemasok untuk memberikan barang yang berkualitas agar mengurangi biaya pemeriksaan.
·      Produk, peralatan dan prosedur dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi waktu dan biaya.
·      Jika perusahaan berhasil menurunkan biaya yang berkaitan dengan pemesanan maka kurva pemesanan total menjadi lebih datar, sehingga Q bergeser ke kiri mendekati JIT ideal yaitu 1 unit.
·      Kesuksesan mencapai JIT ideal tergantung pada jenis produksi dan karakteristik industri pemasok.
3.    Metode Perencanaan Kebutuhan Material (MRP)
Metode pengendalian tradisional akan tidak efektif bila digunakan untuk permintaan yang bersifat tidak bebas (independent). Yang dimaksud permintaan tidak bebas adalah permintaan yang tergantung kepada kebutuhan suatu komponen/material dengan komponen/material lainnya. Dengan kata lain, kebutuhan tidak bebas adalah kebutuhan yang tunduk pada fungsi operasi produksi, sebagai gambaran adalah permintaan akan  4roda mobil dan 1 kemudi hanya apabila ada permintaan 1 unit mobil, sehingga permintaan akan roda dan kemudi dikatakan tergantung pada permintaan mobil. Metode MRP ini bersifat oriented, yang terdiri dari sekumpulan prosedur, aturan – aturan keputusan dan seperangkat mekanisme pencatatan yang dirancang untuk menjabarkan Jadual Induk Produksi (JIP). Dari sejarahnya, penerapan MRP pertama kali digunakan pada industri logam tipe Job Shop dimana tipe ini termasuk tipe yang paling sulit dikendalikan dalam system manufaktur. Dengan demikian, kehadiran MRP sangat berarti dalam meminimisasi investasi persediaan, memudahkan penyusunan jadwal kebutuhan setiap komponen yang diperlukan dan sebagai alat pengendalian produksi dan persediaan. Dalam perkembangan selanjutnya, MRP dapat diterapkan juga pada pengendalian persediaan dalam system manufaktur, baik untuk tipe Job Shop, tipe produksi massal (mass production) maupun tipe lainnya.

K.  Yang harus diperhatikan dalam Manajemen Persediaan adalah :
1.      Waktu kedatangan barang yang akan dipesan kembali.
Jika barang waktu yang dipesan cukup lama pada periode tertentu maka persediaan barang tersebut harus disesuaikan hingga barang tersebut ada setiap saat hingga barang yang dipesan selanjutnya ada.
2.      Berapa kuantitas jumlah barang yang akan disimpan.
Jumlah kuantitas barang yang dipesan harus disesuaikan karena jika terlalu banyak akan terjadi pemborosan namun jika terlalu sedikit akan menimbullkan terhenti proses produksi.
3.      Perhatikan juga safety stock atau persediaan pengamanan.
Yaitu persediaan buat jaga jaga (buffer) jika terjadi sesuatu hal yang menghambat terjadinya waktu pembeliaan sehingga stock barang persediaan masih ada untuk beberapa waktu ke depan.

















BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang harus di jaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam kuantitas yang tepat dan pada waktu yang tepat.atau dengan kata lain, sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa dan kapan pesanan di lakukan secara optimal.
Persediaan biasanya merupakan aktiva lancar terbesar dari suatu perusahaan, dan diperlukan pengukuran yang tepat untuk menjamin laporan keuangan yang akurat. Jika persediaan tidak dihitung secara tepat, pengeluaran dan penerimaan tidak dapat dicocokkan secara benar. Jika persediaan akhir tidak benar, maka hasilnya adalah saldo-saldo dari neraca berikut ini uga tidak akan benar: persediaan barang dagangan, total aktiva, dan ekuitas pemilik modal. Ketika persediaan akhir tidak benar, harga pokok penjualan barang dagangan dan laba bersih juga akan tidak benar di dalam laporan laba rugi.        
Fungsi Persediaan :
1. Menghilangkan/mengurangi risiko keterlambatan pengiriman bahan     
2. Menyesuaikan dengan jadwal produksi                     
3. Menghilangkan/mengurangi resiko kenaikan harga           
4. Menjaga persediaan bahan yang dihasilkan secara musiman      
5. Mengantisipasi permintaan yang dapat diramalkan.            
6. Mendapatkan keuntungan dari quantity discount    
7. Komitmen terhadap pelanggan.           
Jika tidak memiliki persediaan produk jadi terdapat 3 kemungkinan, yaitu:
1.    Konsumen menangguhkan pembelian (jika kebutuhannya tidak mendesak). Hal ini akan mengakibatkan tertundanya kesempatan memperoleh keuntungan.
2.    Konsumen membeli dari pesaing, dan kembali ke perusahaan (jika kebutuhan mendesak dan masih setia). Hal ini akan menimbulkan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan selama persediaan tidak.
3.    Yang terparah jika pelanggan membeli dari pesaing dan terus pindah menjadi pelanggan pesaing, artinya kita kehilangan konsumen.
DAFTAR PUSTAKA

Ø  Brigham, Eugene F. Dan Joel F. Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Jakarta: Erlangga.
Ø  Hanafi, M.B.A. Dr. Mamduh M. 2004. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE.
Ø  Rangkuti Freddy, Manajemen Persediaan, Cetakan Pertama, raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995.
Ø  Riyanto, Bambang, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi kedua Cetakan kedelapan, Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta, 1993.
Ø  Syamsuddin, M.A., Drs. Lukman. 2007. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada..
Ø  T. Hani Handoko, Dasar – Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi 1, BPFE – yogyakarta, 1984









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar